Cara Memperoleh Keikhlasan
(bagian 4)
Mengharapkan Balasan Hanya dari Allah
Siapa pun yang ingin mendapatkan keikhlasan harus waspada terhadap hal
berikut. Ia harus mengharapkan balasan atas amalan duniawinya hanya dari Allah.
Perbuatan apa pun yang dilakukan dengan mengharapkan balasan lain selain ridha
Allah, kasih sayang dan balasan akhirat-Nya, akan mengurangi keikhlasannya.
Perbuatan baik yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan materi dan
sosial daripada balasan dari Allah, hanya akan mendatangkan kerugian, bukan
keuntungan. Bahkan, jika seseorang bertahun-tahun mengabdi kepada Allah dengan
pola pikir demikian, ia tidak pernah dapat berharap untuk mendapatkan
keikhlasan sejati sampai ia berusaha hanya untuk mendapatkan ridha-Nya.
Bagaimanapun juga, ibadah apa pun bila dilakukan hanya untuk mencari keridhaan
Allah, pasti akan membuahkan balasan surgawi.
Dalam ayat berikut, Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman yang
melakukan kebaikan akan diberi balasan yang besar.
“Sesungguhnya,
Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi
kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi
mereka ada pahala yang besar.” (al-Israa` [17]: 9)
Allah mengabarkan kepada kita dalam ayat lain bahwa amal kebaikan akan
diganjar berlipat ganda.
“Dan barangsiapa di
antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya
dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua
kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.” (al-Ahzab [33]: 31)
Dalam bukunya, Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa manusia bisa
berhasil hanya dengan mengingat keridhaan Allah,
“... Dengan kata
lain, satu-satunya alat keselamatan dan pembebasan adalah keikhlasan. Ini
adalah yang paling penting untuk mendapatkan keikhlasan. Perbuatan kecil yang
dilakukan dengan keikhlasan adalah lebih baik daripada perbuatan besar yang
dilakukan tanpa keikhlasan. Seseorang harus berpikir bahwa yang membuat ikhlas
dalam perbuatannya adalah melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah
Allah, dan bahwa tujuan mereka adalah keridhaan Allah....”[1]
Badiuzzaman menggarisbawahi fakta bahwa rasa kasih sayang kepada seseorang
akan menjadi ikhlas hanya jika kita tidak mengharapkan balasan, tetapi
semata-mata karena Allah.
“Keikhlasan ada
di mana pun. Bahkan, sebuah catatan cinta menjadi mulia dengan keikhlasan,
begitu juga dengan berton-ton cinta yang deminya balasan diharapkan. Seseorang
mendeskripsikan cinta yang tulus ini sebagai berikut. ‘Saya tidak menginginkan
sogokan, jasa, atau balasan untuk cinta, karena cinta yang meminta balasan
adalah lemah dan pendek usianya.”[2]
Siapa pun yang ingin mendapatkan keikhlasan harus memahami kenyataan ini
dengan jelas. Jadi, usaha-usahanya akan menjadi amal saleh dan ia kemudian
dapat berharap mendapatkan keridhaan Allah, kasih sayang, dan balasan surgawi
dari-Nya.
Bagaimanapun, setan terus-menerus berusaha untuk menyesatkan manusia dari
jalan yang lurus dan membuat mereka mencari manfaat selain dari Allah.
Alasan-alasan seperti, “saya sudah berusaha mendapatkan keridhaan Allah, apa
ruginya jika saya mengharapkan keuntungan pribadi juga?”, “Saya
akan mendapatkan keridhaan Allah dan kehormatan di masyrakat,” “Saya
akan melakukan perbuatan yang baik, tetapi saya harus mendapatkan balasan,”
atau “Saya akan berkorban, tetapi saya harap segalanya akan kembali
kepada saya,” dan sebagainya. Semua bisikan tersebut berasal dari
setan. Setiap pikiran yang memaksa seseorang untuk mencari balasan selain ridha
Allah ini mencegahnya melakukan amal-amal saleh dan juga menghalangi
keikhlasan.
Said Nursi mengatakan bahwa keikhlasan hanya dapat dicapai jika seseorang
merasa senang dan puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Poin penting
yang ditekankan oleh Badiuzzaman di sini adalah bahwa seseorang seharusnya
tidak hanya mengungkapkan kepuasannya dalam kata-kata, tetapi jauh di dalam
hatinya juga harus menikmati kepatuhan untuk merasa senang dan bahagia dengan
apa yang diberikan Allah untuknya. Hal ini karena ia pada akhirnya bertanggung
jawab di hadapan Allah terhadap niat di dalam hatinya.
“Seseorang juga harus
mengambil pedoman sifat melebihkan orang lain daripada dirinya sendiri, sifat
yang sama dengan para sahabat yang dipuji di dalam Al-Qur`an. Sebagai contoh,
saat memberi hadiah atau berinfaq, seseorang harus selalu mendahulukan penerimanya
daripada dirinya sendiri dan tanpa meminta atau dalam hati menginginkan
balasaan materi apa pun atas perintah agama ini, karena jika tidak, keikhlasan
akan sirna. Manusia memiliki banyak hak dan tuntutan, dan bahkan mungkin berhak
mendapatkan zakat. Akan tetapi, semua itu tidak dapat diminta. Ketika seseorang
menerima sesuatu, tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah balasan atas perbuatan
yang dilakukan, tetapi ia harus selalu mendahulukan yang lain yang lebih
berhak. Jadi, dengan menerapkan arti dari, ‘Mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan,’
(al-Hasyr [59]: 9) seseorang dapat
terselamatkan dari bahaya yang parah itu dan mendapatkan keikhlasan”.[3]
Dalam karya-karyanya yang lain, Badiuzzaman menekankan pentingnya menerima
semua balasan di hari akhir dengan mengatakan,
“Dunia ini
diciptakan untuk penghambaan, bukan untuk menerima upah. Pemberian upah, buah,
dan cahaya amal saleh ada di hari kemudian. Membawa buah abadi tersebut ke
dunia ini dan berharap untuk mendapatkannya di sini berarti membuat hari
kemudian bergantung pada kehidupan dunia. Jadi, keikhlasan dari amal saleh
tersebut menjadi kerugian dan cahayanya terpadamkan. Buah tersebut tidak
diinginkan dan tidak diharapkan. Apa pun yang diberikan, manusia harus
bersyukur kepada Allah dengan berpikir bahwa semua itu diberikan sebagai
dorongan.”[4]
Sungguh, semua balasan selain ridha Allah yang diharapkan manusia adalah
milik dunia ini dan menggambarkan pilihan antara dunia ini dan hari akhir.
Orang yang demikian, yang menikmati keuntungan duniawi ini, dapat dicabut
kesenangannya di akhirat. Sementara itu, orang yang melakukan amal saleh hanya
untuk mendapatkan ridha Allah dan mereka yang menjaga kebersihan niat, akan
dianugerahi keberkahan oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah
memberikan berita gembira bagi orang-orang beriman,
“Barangsiapa yang
mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman,
maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
sesungguhnya akan Kami beri balasa kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl [16]: 97)
Di dalam Al-Qur`an, ada banyak contoh yang menekankan akhlaq mulia para
nabi tentang hal ini. Dalam ayat-ayat Al-Qur`an, juga dikatakan bahwa mereka
tidak meminta balasan apa pun kecuali ridha Allah atas penghambaan mereka.
“(Hud berkata), ‘Hai
kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain
hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidaklah kamu
memikirkan(nya)?’” (Hud [11]: 51)
“(Nuh berkata), ‘Hai
kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku.
Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang
yang telah beriman. Sesungguhnya, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan
tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.’” (Hud [11]: 29)
Badiuzzaman Said Nursi juga mengingatkan bahwa seseorang hanya dapat
berharap untuk mendapatkan keikhlasan dengan keinginannya untuk meneladani
akhlaq mulia para nabi:
“Banyak
orang dapat menjadi kandidat untuk posisi yang sama; banyak tangan dapat
mencoret setiap balasan moral dan material yang ditawarkan. Karenanya, konflik
dan perseteruan muncul; kerukunan berubah menjadi perselisihan; dan kesepakatan
menjadi percekcokan. Kini, obat bagi penyakit yang mengerikan ini adalah
keikhlasan. Keikhlasan bisa didapatkan dengan memilih untuk menyembah Allah
daripada menyembah jiwa seseorang, dengan sebab keridhaan Allah untuk
menaklukkan jiwa dan ego, dan dengan demikian memanifestasikan arti ayat, ‘Upahku
hanyalah dari Allah,’ (Hud [11]: 29) dengan melepaskan balasan
moral dan material dari manusia, dan memanifestasikan arti dari ayat, ‘Kewajiban
rasul tidak lain hanyalah menyampaikan;’ (al-Maa’idah [5]: 99) dan
dengan mengetahui hal tersebut sebagai penerimaan yang baik, dan membuat kesan
yang menyenangkan, dan mendapatkan perhatian manusia adalah urusan Allah dan
pertolongan dari-Nya, dan bahwa mereka tidak berperan dalam membawa risalah
yang menjadi tugas setiap orang itu. Mereka juga tidak merasa penting dan tidak
juga seseorang dituntut untuk memperolehnya. Dengan memahami semua itu, seseorang
akan berhasil dalam mendapatkan keikhlasan. Jika tidak, semua itu akan sirna.”[5]
[1] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan
Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-17.
[2] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan
Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-17.
[3] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan
Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.
[4] Badiuzzaman Said Nursi, Kastamonu
Lahikasi (Surat-Surat Kastamonu), hlm 134 .
[5] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan
Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar