Seminar Nasional Pendidikan IPA 2016

Kamis, 08 Maret 2012

Riwayat Evolusi Manusia


Riwayat Evolusi Manusia

Bahasan yang paling sering diangkat oleh para pendukung teori evolusi adalah tentang asal-muasal manusia. Para pengikut Darwin mengklaim bahwa manusia modern sekarang ini adalah hasil perkembangan dari beberapa macam makhluk seperti kera. Selama terjadinya proses evolusi ini, yang diperkirakan telah dimulai sejak 4-5 juta tahun yang lalu, para evolusionis mengklaim bahwa telah ada beberapa “bentuk transisi” antara manusia modern dan para nenek moyangnya. Menurut skenario imajiner yang lengkap ini, empat “kategori” dasar disusun:
1. Australopithecus,
2. Homo habilis,
3. Homo erectus,
4. Homo sapiens.          
Para evolusionis menyebut bahwa yang dikatakan sebagai nenek moyang pertama manusia adalah makhluk seperti kera Australopithecus yang berarti “Kera Afrika Selatan”. Makhluk-makhluk hidup ini sebenarnya tidak pernah ada, tetapi spesies kera tualah yang pernah ada. Sebuah riset yang ekstensif dilakukan terhadap beragam sampel Australopithecus oleh dua orang ahli anatomi terkenal yang berasal dari Inggris dan Amerika, Lord Solly Zuckerman dan Prof. Charles Oxnard, menunjukkan bahwa semua itu merupakan fosil spesies kera biasa yang telah punah dan hampir tidak ada kemiripannya dengan manusia.[1]
Para evolusionis mengklasifikasi tahap dari proses evolusi manusia selanjutnya sebagai “homo” yang berarti “manusia.” Dalam klaim para evolusionis, makhluk hidup dalam serial Homo jauh lebih cepat perkembangannya daripada Australopithecus. Evolusionis merencanakan skema fantastis dengan cara menyusun fosil-fosil yang beragam dari dalam tatanan yang tertentu yang  merupakan suatu imajinasi sebab tidak pernah dibuktikan bahwa ada sebuah hubungan evolusi antara kelompok  berbeda tersebut. Ernst Mayr, salah seorang pembela utama teori evolusi pada abad kedua puluh, mengakui fakta ini dengan menyatakan bahwa “rantai yang mencapai sejauh Homo sapiens sebenarnya hilang”.[2]
Dengan garis besar rantai hubungan seperti AustralopithecusàHomo habilisàHomo erectusàHomo sapiens”, para evolusionis mengimplikasikan bahwa setiap spesies ini memiliki satu nenek moyang dengan yang lainnya. Akan tetapi, penemuan terakhir dari para palaentologis mengemukakan bahwa Australopithecus, Homo habilis, dan Homo erectus hidup di bagian dunia yang berbeda pada waktu yang bersamaan.[3]

Selain itu, suatu golongan tertentu dari manusia yang diklasifikasikan sebagai Homo erectus terus hidup hingga masa yang sangat modern. Homo sapiens neandarthalensis dan Homo sapiens sapiens (manusia modern) eksis secara bersamaan pada wilayah yang sama.[4]
Singkatnya, skenario dari evolusi manusia, yang dipandang terjadi dengan bantuan beragam gambaran dari beberapa makhluk “setengah kera, setengah manusia” yang muncul di media-media dan buku-buku pelajaran, sejujurnya merupakan suatu propaganda yang disengaja dan tak lain hanyalah suatu dongeng tanpa adanya dasar saintifik.
Lord Solly Zuckerman, salah seorang saintis paling terkemuka dan terkenal di Inggris, yang telah melakukan riset tentang fosil-fosil Australopithecus selama belasan tahun, akhirnya menyimpulkan, bahwa sebenarnya tidak ada silsilah keluarga dari kera yang mempunyai kemiripan dengan manusia.
Zuckerman juga membuat suatu “spektrum sains” yang menarik. Dia membuat suatu spektrum sains yang terdiri atas mereka yang dia anggap saintifik hingga mereka yang tidak saintifik. Menurut spektrum Zuckerman, yang “paling saintifik” dalam bidang sains adalah kimia dan fisika. Setelah keduanya adalah ilmu biologi, kemudian ilmu sosial. Di akhir spektrum, yang dianggap sebagai yang “paling tidak saintifik” adalah “persepsi ekstrasensori”–konsep-konsep seperti telepati dan indera keenam–dan yang terakhir adalah “evolusi manusia”. Zuckerman menerangkan tentang alasannya,
“Kami kemudian berpaling pada susunan kebenaran yang objektif kepada bidang ilmu biologi pra-asumsi, seperti persepsi ekstrasensori atau iterpretasi sejarah fosil manusia, di mana keyakinan (para evolusionis) terhadap sesuatu adalah mungkin—dan di mana pada saat yang sama secara berapi-api meyakini (dalam masalah evolusi) sesuatu yang dapat diyakini secara kontradiktif.[5]
Riwayat evolusi manusia tidak menghasilkan apa pun kecuali interpretasi-interpretasi yang didasari praduga tentang beberapa fosil yang digali oleh orang-orang tertentu, yang secara membabi buta mengikuti teori mereka.


[1] Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower (New York: Toplinger Publications, 1970), hlm. 75-94; Charles E. Oxnard, “The Place of Australopithecus in Human Evolution: Grounds for Doubt”, Nature, vol. 258, hlm. 389.
[2] “Sould science be brought to end by scientist’ belief that they have final answers or by society’s reluctance to pay the bills?” Scientific American, Desember 1992, hlm. 20.
[3] Alam Walker, Science, vol. 207, 7 Maret 1980, hlm. 1103; A. J. Kelso, Physical Antropology (New York: J. B. Lipincott Co., 1970), Edisi pertama, hlm. 221; M. D. Leakey, Olduvai Gorge (Cambridge: Cambridge University Press, 1971), vol. 3, hlm. 272.
[4] Jeffrey Kluger, “Not So Extinct After All: The Primitive Homo Erectus May Have Survived Long Enough To Coexist With Modern Humans”, Time, 23 Desember 1996.
[5] Solly Zuckerman, Beyond the Ivory Tower, hlm. 19.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar