Seminar Nasional Pendidikan IPA 2016

Kamis, 08 Maret 2012

Mekanisme Penggambaran dari Teori Evolusi


Mekanisme Penggambaran dari Teori Evolusi

Poin penting kedua adalah bahwa kedua konsep yang dikemukakan teori ini sebagai “mekanisme evolusioner”, pada realitasnya dipahami tidak mempunyai kekuatan evolusioner.
Darwin mendasarkan seluruh pemunculan teori evolusinya pada mekanisme “seleksi alam”, yang berpandangan bahwa makhluk-makhluk hidup yang lebih kuat dan lebih pandai menyesuaikan diri dengan kondisi alam pada habitatnya, akan dapat bertahan hidup dengan segala perjuangannya. Contohnya, sekawanan rusa akan terdiri atas individu-individu yang lebih cepat dan lebih kuat. Akan tetapi, satu hal yang tidak dapat dipertanyakan, mekanisme ini tidak akan menyebabkan rusa-rusa tersebut berkembang dan mentransformasi diri mereka menjadi spesies hidup yang berbeda, misalnya, menjadi kuda.
Karena itu, mekanisme seleksi alam tidaklah mempunyai kekuatan evolusioner. Darwin juga menyadari fakta ini dan menyatakan dalam bukunya, The Origin of Species,
“Seleksi alam tidak dapat melakukan apa pun hingga berbagai variasi yang menguntungkan bisa terjadi.”[1]

Pengaruh Lamarck
Bila demikian, bagaimana “variasi-variasi yang menguntungkan” ini dapat terjadi? Darwin telah mencoba menjawab pertanyaan ini dari sudut pandang pemahaman primitif sains pada masanya. Menurut seorang ahli biologi Prancis bernama Lamarck, yang hidup sebelum Darwin, makhluk hidup bertahan hidup melalui sifat-sifat yang dimiliki selama hidupnya sampai generasi berikutnya dan sifat-sifat ini, yang berakumulasi dari satu generasi ke generasi berikutnya, menyebabkan terbentuknya spesies-spesies baru. Misalnya, menurut Lamarck, jerapah berkembang dari antelop; seiring dengan perjuangan mereka untuk memakan dedaunan pada pohon yang tinggi, leher mereka memanjang dari generasi ke generasi.
Akan tetapi, hukum-hukum keturunan yang ditemukan oleh Mendel dan diverifikasi oleh ilmu genetika yang berkembang pada abad kedua puluh, membongkar legenda tersebut sehabis-habisnya bahwa sifat-sifat yang dimiliki diwariskan pada generasi berikutnya. Akibatnya, seleksi alam telah gagal menjadi suatu mekanisme evolusioner.

Neo-Darwinisme dan Mutasi
Agar dapat menemukan suatu solusi, para Darwinis mengembangkan “Teori Sintetis Modern” (Neo-Darwinisme), pada akhir tahun 1930-an. Neo-Darwinisme menambahkan mutasi, yang merupakan berbagai distorsi yang dibentuk dalam gen-gen makhluk hidup karena faktor-faktor eksternal seperti radiasi atau kesalahan-kesalahan replikasi, sebagai “penyebab dari beragam variasi yang menguntungkan” yang merupakan tambahan bagi mutasi alam.
Dewasa ini, model yang mendukung teori evolusi di dunia adalah Neo-Darwinisme. Menurut teori tersebut, jutaan makhluk hidup yang ada di muka bumi ini terbentuk sebagai hasil dari suatu proses di mana organ-organ yang sangat kompleks dari organisme-organisme ini, seperti telinga, mata, paru-paru, dan sayap, mengalami “mutasi”, yaitu kekacauan-kekacauan genetika. Akan tetapi, ada satu fakta saintifik yang sama sekali palsu yang secara keseluruhan meruntuhkan teori ini, yaitu: mutasi tidak menyebabkan makhluk hidup berkembang; sebaliknya, mutasi selalu menyebabkan kerusakan kepada makhluk tersebut.
Alasan untuk ini sangatlah sederhana: DNA mempunyai suatu struktur yang kompleks dan pengaruh-pengaruh acak hanya dapat mengakibatkan kerusakan padanya.
Tidak mengherankan, tidak ada contoh dari mutasi yang berguna, karena yang diobservasi untuk mengembangkan sandi genetika telah diobservasi sejauh ini. Semua mutasi telah terbukti merusak. Karenanya, dipahami bahwa mutasi, yang dipresentasikan sebagai “mekanisme evolusioner”, sebenarnya adalah suatu peristiwa genetika yang merusak makhluk hidup dan menyebabkan mereka tidak berguna (pengaruh yang paling umum dari mutasi terhadap umat manusia adalah kanker). Sebaliknya, seleksi alam “tidak dapat melakukan apa pun oleh dirinya” sebagaimana hal ini juga diterima oleh Darwin. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada “mekanisme evolusioner” di alam. Karena tidak ada mekanisme evolusioner yang eksis, tidak juga terdapat proses imajiner yang disebut teori evolusi yang telah dikemukakan.

Catatan Fosil: Tidak Ada Tanda Bentuk-Bentuk Transisi
Bukti yang paling jelas bahwa skenario yang dikemukakan oleh teori evolusi tidak mendapatkan tempat adalah catatan fosil.
Menurut teori evolusi, setiap spesies telah tertutup dari pendahulunya. Suatu spesies yang ada sebelumnya telah berubah menjadi sesuatu yang lain dalam satu waktu dan semua spesies menjadi seperti itu dengan cara seperti ini. Menurut teori evolusi, transformasi ini berproses secara bertahap selama berjuta-juta tahun.
Misalnya, beberapa ekor hewan setengah ikan dan setengah reptil seharusnya telah hidup di masa lampau, yang mempunyai beberapa sifat reptil sebagai tambahan terhadap sifat ikan yang telah ada. Karena hal ini akan menjadi sebuah fase transisi, mereka seharusnya adalah makhluk yang tidak mampu melakukan apa pun, defektif, dan lumpuh. Para evolusionis merujuk kepada makhluk-makhluk imajiner ini, yang mereka yakini telah hidup di masa lampau, sebagai “bentuk transisi”.
Jika hewan-hewan seperti itu benar-benar telah ada sebelumnya, seharusnya jumlah mereka pastilah sangat besar, jutaan, bahkan miliaran hewan, dan varietasnya juga pastilah banyak. Yang lebih penting, peninggalan dari makhluk-makhluk yang aneh ini pun seharusnya ada dalam catatan fosil. Dalam The Origin of Species, Darwin telah menerangkan,
“Jika teori saya ini benar, sekian banyak varietas lanjutan, yang berhubungan paling dekat dengan semua spesies pada kelompok yang sama, harusnya dipastikan pernah ada.... Konsekuensinya, bukti dari keberadaan mereka dapat ditemukan hanya di antara peninggalan-peninggalan fosil.”[2]


[1] Charles Darwin, The Origin of Species by Means of Natural Selection (New York: The Modern Library), hlm. 127.
[2] Charles Darwin, The Origin of Species: A Facsimile of the First Edition (Harvard University Press, 1964), hlm. 179.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar