Seminar Nasional Pendidikan IPA 2016

Jumat, 09 Maret 2012

Islami : Cara Memperoleh Keikhlasan (bagian 4)

Cara Memperoleh Keikhlasan
 (bagian 4)
 
Mengharapkan Balasan Hanya dari Allah
Siapa pun yang ingin mendapatkan keikhlasan harus waspada terhadap hal berikut. Ia harus mengharapkan balasan atas amalan duniawinya hanya dari Allah. Perbuatan apa pun yang dilakukan dengan mengharapkan balasan lain selain ridha Allah, kasih sayang dan balasan akhirat-Nya, akan mengurangi keikhlasannya. Perbuatan baik yang dilakukannya hanya untuk mendapatkan keuntungan materi dan sosial daripada balasan dari Allah, hanya akan mendatangkan kerugian, bukan keuntungan. Bahkan, jika seseorang bertahun-tahun mengabdi kepada Allah dengan pola pikir demikian, ia tidak pernah dapat berharap untuk mendapatkan keikhlasan sejati sampai ia berusaha hanya untuk mendapatkan ridha-Nya. Bagaimanapun juga, ibadah apa pun bila dilakukan hanya untuk mencari keridhaan Allah, pasti akan membuahkan balasan surgawi.
Dalam ayat berikut, Allah menyatakan bahwa orang-orang beriman yang melakukan kebaikan akan diberi balasan yang besar.

“Sesungguhnya, Al-Qur`an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Israa` [17]: 9)

Allah mengabarkan kepada kita dalam ayat lain bahwa amal kebaikan akan diganjar berlipat ganda.

“Dan barangsiapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.” (al-Ahzab [33]: 31)


Dalam bukunya, Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa manusia bisa berhasil hanya dengan mengingat keridhaan Allah,
... Dengan kata lain, satu-satunya alat keselamatan dan pembebasan adalah keikhlasan. Ini adalah yang paling penting untuk mendapatkan keikhlasan. Perbuatan kecil yang dilakukan dengan keikhlasan adalah lebih baik daripada perbuatan besar yang dilakukan tanpa keikhlasan. Seseorang harus berpikir bahwa yang membuat ikhlas dalam perbuatannya adalah melakukannya dengan murni dan tulus karena perintah Allah, dan bahwa tujuan mereka adalah keridhaan Allah....”[1]
Badiuzzaman menggarisbawahi fakta bahwa rasa kasih sayang kepada seseorang akan menjadi ikhlas hanya jika kita tidak mengharapkan balasan, tetapi semata-mata karena Allah.
Keikhlasan ada di mana pun. Bahkan, sebuah catatan cinta menjadi mulia dengan keikhlasan, begitu juga dengan berton-ton cinta yang deminya balasan diharapkan. Seseorang mendeskripsikan cinta yang tulus ini sebagai berikut. ‘Saya tidak menginginkan sogokan, jasa, atau balasan untuk cinta, karena cinta yang meminta balasan adalah lemah dan pendek usianya.”[2]
Siapa pun yang ingin mendapatkan keikhlasan harus memahami kenyataan ini dengan jelas. Jadi, usaha-usahanya akan menjadi amal saleh dan ia kemudian dapat berharap mendapatkan keridhaan Allah, kasih sayang, dan balasan surgawi dari-Nya.
Bagaimanapun, setan terus-menerus berusaha untuk menyesatkan manusia dari jalan yang lurus dan membuat mereka mencari manfaat selain dari Allah. Alasan-alasan seperti, “saya sudah berusaha mendapatkan keridhaan Allah, apa ruginya jika saya mengharapkan keuntungan pribadi juga?, Saya akan mendapatkan keridhaan Allah dan kehormatan di masyrakat, Saya akan melakukan perbuatan yang baik, tetapi saya harus mendapatkan balasan, atau “Saya akan berkorban, tetapi saya harap segalanya akan kembali kepada saya, dan sebagainya. Semua bisikan tersebut berasal dari setan. Setiap pikiran yang memaksa seseorang untuk mencari balasan selain ridha Allah ini mencegahnya melakukan amal-amal saleh dan juga menghalangi keikhlasan.
Said Nursi mengatakan bahwa keikhlasan hanya dapat dicapai jika seseorang merasa senang dan puas terhadap apa yang Allah berikan kepadanya. Poin penting yang ditekankan oleh Badiuzzaman di sini adalah bahwa seseorang seharusnya tidak hanya mengungkapkan kepuasannya dalam kata-kata, tetapi jauh di dalam hatinya juga harus menikmati kepatuhan untuk merasa senang dan bahagia dengan apa yang diberikan Allah untuknya. Hal ini karena ia pada akhirnya bertanggung jawab di hadapan Allah terhadap niat di dalam hatinya.
“Seseorang juga harus mengambil pedoman sifat melebihkan orang lain daripada dirinya sendiri, sifat yang sama dengan para sahabat yang dipuji di dalam Al-Qur`an. Sebagai contoh, saat memberi hadiah atau berinfaq, seseorang harus selalu mendahulukan penerimanya daripada dirinya sendiri dan tanpa meminta atau dalam hati menginginkan balasaan materi apa pun atas perintah agama ini, karena jika tidak, keikhlasan akan sirna. Manusia memiliki banyak hak dan tuntutan, dan bahkan mungkin berhak mendapatkan zakat. Akan tetapi, semua itu tidak dapat diminta. Ketika seseorang menerima sesuatu, tidak bisa dikatakan bahwa ini adalah balasan atas perbuatan yang dilakukan, tetapi ia harus selalu mendahulukan yang lain yang lebih berhak. Jadi, dengan menerapkan arti dari, ‘Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan,’ (al-Hasyr [59]: 9) seseorang dapat terselamatkan dari bahaya yang parah itu dan mendapatkan keikhlasan.[3]
Dalam karya-karyanya yang lain, Badiuzzaman menekankan pentingnya menerima semua balasan di hari akhir dengan mengatakan,
Dunia ini diciptakan untuk penghambaan, bukan untuk menerima upah. Pemberian upah, buah, dan cahaya amal saleh ada di hari kemudian. Membawa buah abadi tersebut ke dunia ini dan berharap untuk mendapatkannya di sini berarti membuat hari kemudian bergantung pada kehidupan dunia. Jadi, keikhlasan dari amal saleh tersebut menjadi kerugian dan cahayanya terpadamkan. Buah tersebut tidak diinginkan dan tidak diharapkan. Apa pun yang diberikan, manusia harus bersyukur kepada Allah dengan berpikir bahwa semua itu diberikan sebagai dorongan.[4]
Sungguh, semua balasan selain ridha Allah yang diharapkan manusia adalah milik dunia ini dan menggambarkan pilihan antara dunia ini dan hari akhir. Orang yang demikian, yang menikmati keuntungan duniawi ini, dapat dicabut kesenangannya di akhirat. Sementara itu, orang yang melakukan amal saleh hanya untuk mendapatkan ridha Allah dan mereka yang menjaga kebersihan niat, akan dianugerahi keberkahan oleh Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Allah memberikan berita gembira bagi orang-orang beriman,

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasa kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl [16]: 97)

Di dalam Al-Qur`an, ada banyak contoh yang menekankan akhlaq mulia para nabi tentang hal ini. Dalam ayat-ayat Al-Qur`an, juga dikatakan bahwa mereka tidak meminta balasan apa pun kecuali ridha Allah atas penghambaan mereka.

“(Hud berkata), ‘Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidaklah kamu memikirkan(nya)?’” (Hud [11]: 51)

“(Nuh berkata), ‘Hai kaumku, aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku. Upahku hanyalah dari Allah dan aku sekali-kali tidak akan mengusir orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya, mereka akan bertemu dengan Tuhannya, akan tetapi aku memandangmu suatu kaum yang tidak mengetahui.’” (Hud [11]: 29)

Badiuzzaman Said Nursi juga mengingatkan bahwa seseorang hanya dapat berharap untuk mendapatkan keikhlasan dengan keinginannya untuk meneladani akhlaq mulia para nabi:
Banyak orang dapat menjadi kandidat untuk posisi yang sama; banyak tangan dapat mencoret setiap balasan moral dan material yang ditawarkan. Karenanya, konflik dan perseteruan muncul; kerukunan berubah menjadi perselisihan; dan kesepakatan menjadi percekcokan. Kini, obat bagi penyakit yang mengerikan ini adalah keikhlasan. Keikhlasan bisa didapatkan dengan memilih untuk menyembah Allah daripada menyembah jiwa seseorang, dengan sebab keridhaan Allah untuk menaklukkan jiwa dan ego, dan dengan demikian memanifestasikan arti ayat, ‘Upahku hanyalah dari Allah,’ (Hud [11]: 29) dengan melepaskan balasan moral dan material dari manusia, dan memanifestasikan arti dari ayat, ‘Kewajiban rasul tidak lain hanyalah menyampaikan;’ (al-Maa’idah [5]: 99) dan dengan mengetahui hal tersebut sebagai penerimaan yang baik, dan membuat kesan yang menyenangkan, dan mendapatkan perhatian manusia adalah urusan Allah dan pertolongan dari-Nya, dan bahwa mereka tidak berperan dalam membawa risalah yang menjadi tugas setiap orang itu. Mereka juga tidak merasa penting dan tidak juga seseorang dituntut untuk memperolehnya. Dengan memahami semua itu, seseorang akan berhasil dalam mendapatkan keikhlasan. Jika tidak, semua itu akan sirna.”[5]


[1] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-17.
[2] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-17.
[3] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.
[4] Badiuzzaman Said Nursi, Kastamonu Lahikasi (Surat-Surat Kastamonu), hlm 134 .
[5] Badiuzzaman Said Nursi, Kumpulan Risalah an-Nur, Kumpulan “Cahaya”, Cahaya Ke-20.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar