Seminar Nasional Pendidikan IPA 2016

Jumat, 23 Maret 2012

Islami : Mencermati Pesan Rasululullah


Mencermati Pesan Rasululullah


الحَمْدُ للهِ المُبْتَدِئِ بِحَمْدِ نَفْسِهِ قَبْلَ أَنْ يَحْمَدَهُ حَامِدٌ. الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ الصَّمَدُ الوَاحِدُ. وَاَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الحَيُّ القَيُّوْمُ ذُوْالجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ وَالمَوَاهِبُ العِظَامُ وَالمُتَكَلِّمُ بِالقُرْآنِ وَالخَالِقُ لِلْإِنْسَانِ وَالمُنْعِمُ عَلَيْهِ بِالإِيْمَانِ وَالمُرْسِلُ رَسُوْلَهُ بِالبَيَانِ. وَاَشْهَدُ أّنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الهَادِى بِكِتَابِهِ المُبِيْنَ, الفَارِقُ بَيْنَ الشَّكِّ وَاليَقِيْنِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَجَمِيْعِ المُؤْمِنِيْنَ المُخْلِصِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ. وَقَدْ قَالَ الله تَعَالىَ فَى كِتَابِهِ المُنَزَّل : اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ . صَدَقَ اللهُ العَظِيْمِ .فَيَا عِبَادَ الله, اِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Sidang Jum’at yang berbahagia,
Segala puji bagi Allah SWT. dengan memuji-Nya yang sebanyak-banyaknya. Marilah kita senantiasa meningkatkan rasa bersyukur kita kepada –Nya yang telah memberi nikmat dan barakah kepada hidup kita. Kemudian mempertebal iman dan berbekal taqwa yaitu dengan perintah-perintah-Nya kita harus melaksanakan dan dengan larangan-larangan-Nya kita harus menjauhi sekuat-kuatnya.
Artinya: “Dan terhadap nikmat Tuhan maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)”. (Adh Dhuha: 93 : 11).

Sidang Jum’at yang berbahagia,
Rasulullah SAW dalam sabdanya berpesan kepada umatnya agar menjaga dan memelihara lima perkara, yaitu:
    Pertama, memagari rahasia kehidupan dengan bermunajat kepada Allah SWT. Dalam bahasa ada istilah “Do’a” dan “Munajat” atau”Najwa”.”Do’a” bisa berarti panggilan dan juga bisa berarti permohonan, sedangkan “Munajat” atau “Najwa” mempunyai arti berkata-kata dengan suara perlahan-lahan. Ketika dua orang sahabat sedang berbisik-bisik,berarti yang dilakukan itu adalah”Najwa”,yaitu bercakap-cakap dengan suara perlahan-lahan dan lemah lembut. Itulah sebabnya apapun persoalan yang kita hadapi hendaklah kita mengadukan langsung kepada Allah SWT, niscaya rahasia akan tertutup dan terpelihara dari pada berbicara kesana kemari.
Sebagai hamba yang beriman dan bijaksana dalam suka dan duka serta dalam kondisi apapun juga senantiasa bermunajat kpada Allah SWT, dan bahasa sederhananya adalah melapor ketika susah saja, padahal Allah lebih senang lagi kalau hamba-Nya ketika suka, ketika menerima limpahan nikmat karunia-Nya segera melapor dan bermunajat kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar, bukankah Allah berjanji.
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجاً . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
”....Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada di sangka-sangkanya....’ (Ath Thalaq(65);2-3)
          Allah juga menyatakan:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً
”Dan pada sebagian malam hari bershalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat terpuji”. (Al Isra’ (17): 79). Dikeheningan malam dikala sunyi senyap bangun dan bermunajat untuk melaporkan keadaan kita langsung kepada Allah, niscaya Allah akan menempatkan kita kepada derajat yang terpuji, jauh dari kehinaan.
          Kalau kita mengadu kepada sesama teman, tatangga kanan kiri, maka yang terjadi adalah keluh kesah. Gaji kecil mengeluh, kondisi badan kurang sehat juga mengeluh, padahal kita lupa bahwa lebih sering kita sehat dari pada sakit, lebih sering punya uang dari pada tidak punya uang, karena itu bersyukurlah atas nikmat Allah SWT. Allah SWT berfirman didalam surat Adh Dhuha (93) ayat 11. (dilihat di awal khutbah ini).
Sidang Jum’at yang berbahagia,
Kedua, pagari hartamu dengan bersedekah, berinfaq dan berzakat, sebab kita sadar bahwa di dalam harta kekeyaan kita ada hak saudara kita yang hidup dalam kesulitan. Infaq merupakan  bukti kepedulian kita kepada saudara-saudara kita  yang hidup dalam kesulitan. Kita sadar bahwa kita hidup dalam kenikmatan, serba cukup ini adalah karena keberadaan saudara-saudara kita yang fakir dan miskin.
          Rasulullah SAW menyatakan bahwa  kita tidak akan di anugerahkan rezeki oleh Allah, tidak akan memperoleh kemenangan dan pertolongan dari Allah kecuali dengan do’a saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan dan kekurangan. Peranan saudara kita “Fuqara’ wal masakin” sangat besar dalam kehidupan ini hanya sayang seribu sayang tidak sedikit orang yang mampu tetapi tidak menyadarinya, keberhasilan yang diraih seolah-olah atas usaha dan ikhtiar sendiri, padahal ada andil do’a dari saudara kita yang lemah. Sebab kalau orang dalam kondisi susah do’a dan permohonannya tidak akan ditolak oleh Allah, yakni terkabul “Mustajab”, karena do’anya keluar dari dalam hati yang paling dalam bukan sekedar bahasa lidah.
Agar harta kita aman dan tidak menjadi bencana maka pagarilah dengan banyak bersedekah. Sulit dipungkiri, tidak jarang seseorang yang hidup berkecukupan tetapi kehidupannya penuh dengan kegelisahan. Hidup serba cukup, rumah mewah, kendaran banyak tetapi hidupnya selalu resah dan gelisah, kata Rasulullah SAW obatnya adalah shadaqah.
Sidang Jum’at yang berbahagia,
Ketiga, pagari amal ibadah kita dengan ikhlas. Apapun bentuk ibadah kita,shalat, puasa, shadaqah, zakat, haji, silaturrahim dan ibadah-ibadah lainnya hendaklah dilakukan atas dasar keikhlasan atau ketulusan hati. Manusia diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada Allah dengan beribadah dalam arti yang seluas-luasnya. Sebagai karyawan, pengusaha, guru, pedagang, buruh dan profesi-profesi lainnya hendaklah diwarnai dengan warna ibadah untuk  meraih dua keuntungan sekaligus, hasanah fiddunya wahasanah fil akhirah.
Sidang Jum’at yang berbahagia,
Keempat, pagari ucapan dengan kejujuran. Berkatalah yang benar, jangan menipu dan berdusta. Di akhir zaman ini kejujuran kadang di pandang suatu yang aneh, sementara yang menyimpang di anggap lumrah dan biasa, padahal itu suatu bencana dan kehancuran.
Sidang Jum’at yang berbahagia,
Kelima, mengedepankan musyawarah. Rasulullah SAW selalu mengajak bermusyawarah para sahabatnya. Ketika terjadi perang dahsyat yang di alami pasukan islami di bawah pimpinan Muhammad Rasulullah SAW dalam rangka mengibarkan bendera kebenaran, berhasil meraih kemenangan, karena mengedepankan musyawarah. Jangan merasa gagah, berpangkat tinggi, lalu yang lain tidak diajak bicara dan berdiskusi dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Musyawarah banteng pemelihara dari penyesalan dan selamat dari cercaan.
Akhirnya, dari mimbar jum’at yang mulia ini, marilah kita mencermati lima pesan Rasulullah Saw. Yaitu memagari rahasia kehidupan dengan bermunajat kepada Allah SWT., memagari harta kita dengan bersedekah, berinfaq dan berzakat, memagari amal ibadah kita dengan ikhlas, memagari ucapan dengan kejujuran. Berkatalah yang benar, jangan menipu dan berdusta, serta utamakan mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Oleh: Ahmad Nuruddin, S.Ag.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ وَاسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الُمْسِلِمْينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ المُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

















Tidak ada komentar:

Posting Komentar