Space 4

Space 4
Space 4

Jumat, 23 Maret 2012

Biologi : (123)STRUKTUR BIJI MONOKOTIL DAN PERKECAMBAHAN BIJI JAGUNG


BAB I
PENDAHULUAN

1.  Latar Belakang
        
2.     Tujuan Eksperimen
·         Mengamati struktur biji monokotil :
Mengetahui struktur biji monokotil.
Mengamati perbedaan struktur biji pada beberapa anggota monokotil.
·         Perkecambahan :
Untuk mengamati proses perkecambahan pada biji jagung yang merupakan anggota tumbuhan monokotil.
  Mengamati tipe perkecambahan tumbuhan monokotil.
3.     Rumusan Masalah
·         Apakah struktur biji setiap tumbuhan biji monokotil sama?
·         Apakah tipe perkecambahan tumbuhan biji monokotil dan tumbuhan biji dikotil sama?
4.     Hipotesis
·         Struktur biji antara tumbuhan biji monokotil yang satu dengan yang lain tidak sama
·         Tipe perkecambahan antara tumbuhan biji monokotil dan dikotil tidak sama.

5.     Metode Penelitian
   
Dalam menyelesaikan karya tulis ini, kami menggunakan metode observasi dan studi pustaka. Dalam hal ini kami menggunakan beberapa literatur (terlampir dalam daftar pustaka) dan  browsing internet sebagai pelengkap.
6.     Variabel
·         Percobaan 1: pengamatan struktur biji monokotil
Variabel bebas       : berbagai jenis biji monokotil
Variabel terikat     : struktur biji monokotil
Variabel kontrol    : pengirisan biji secara melintang dan membujur
·         Percobaan 2 : perkecambahan biji monokotil
Variabel bebas       : jenis biji (dikotil dan monokotil)
Variabel terikat     : tipe perkecambahan
Variabel kontrol    : medium penanaman, skala penyiraman air dan intensitas cahaya.
7.     Alat dan Bahan:
·         Percobaan 1: Pengamatan struktur biji monokotil
1.      Silet
2.      Gelas air mineral
3.      Alat tulis
4.      Biji monokotil siap observasi ()
5.      air
·         Percobaan 2 : Perkecambahan biji monokotil
1.      Gelas air mineral
2.      Jarum
3.      Alat tulis
4.      Biji jagung siap tanam
5.      Tanah
6.      Air

8.     Langkah Kerja:
·         Percobaan 1: pengamatan struktur biji monokotil
1.       Biji jagung yang telah dipersiapkan direndam dalam air dingin selama 2 jam
2.       Biji jagung tersebut digambar struktur luarnya
3.       Biji jagung dipotong secara vertikal/membujur untuk semua biji dan secara horizontal/melintang, lalu diamati dan digambar bagian-bagiannya lalu berikan keterangan.
·         Percobaan 2 : perkecambahan biji monokotil
1.      Siapkan gelas air mineral.
2.      Lubangi gelas air mineral di bagian samping dan bawah gelas dengan menggunakan jarum.
3.      Isi gelas dengan tanah.
4.      Masukkan biji jagung ke dalam tanah (1 gelas 3 biji jagung).
5.      Siram dengan air secukupnya.
6.      Letakkan di tempat yang terkena sinar matahari.
7.      Amati proses perkecambahannya.
9.     Sistematika Pembahasan
       Pendahuluan dalam bab ini berisi tentang latar belakang, tujuan penelitian, rumusan masalah, hipotesis, metode penelitian, variabel, alat bahan, langkah kerja, serta sistematika pembahasan mengenai karya ilmia.
       Dasar Teori dalam bab ini  mencakup gambaran umum tentang biji monokotil. Bab ini memaparkan dasar teori yang digunakan peneliti dalam memahami dan menganalisa struktur biji monokotil dan perkecambahan biji jagung.
       Pembahasan dalam bab ini dibahas mengenai rumusan masalah yang telah tercantum pada bab I  beserta dengan analisa data.
       Penutup dalam bab ini berisi kesimpulan akhir dari penelitian ini, serta saran untuk perbaikan karya ilmiah bagi peneliti selanjutnya.




BAB  II
LANDASAN TEORI

·         Pertumbuhan dan Perkembagan Awal
Tumbuhan berbiji tumbuh dan berkembang dari biji. Biji merupakan suatu organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Umumnya biji terdapat di dalam buah. Biji berkembang dari bakal biji yang dibuahi.
·         Struktur Biji Monokotil
-          Kulit Biji
-          Endosperma, adalah jaringan yang mengelilingi embrio dan terdapat di kotiledon yang mengandung cadangan makanan
-          Skutellum / kotiledon / keping biji. Kotiledon mengandung cadangan makanan yang di dalamnya terdapat pati, protein dan beberapa jenis enzim
-          Koleoptil, adalah selubung ujung embrio/plumula
-          Plumula, adalah kuncup primer pucuk batang lembaga
-          Radikula (bakal akar)
-          Koleoriza, adalah bagian yang menyelubungi akar
-          Embryonic axis, adalah bagian bawah/pangkal embrio
-          Hipokotil, adalah bagian bawah embryonic axis yang melekat pada kotiledon
-          Epikotil, adalah bagian atas embryonic axis yang melekat pada kotiledon
-          Embrio (bakal tumbuhan)
·         Perkecambahan
Perkecambahan (germination) merupakan tahap awal perkembangan suatu tumbuhan, khususnya tumbuhan berbiji. Dalam tahap ini, embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan ia berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah.
Kecambah adalah tumbuhan (sporofit) muda yang baru saja berkembang dari tahap embrionik di dalam biji. Tahap perkembangan ini disebut perkecambahan dan merupakan satu tahap kritis dalam kehidupan tumbuhan. Kecambah biasanya dibagi menjadi tiga bagian utama: radikula (akar embrio), hipokotil, dan kotiledon (daun lembaga).
Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi (berarti "minum"). Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya, baik dari tanah maupun udara (dalam bentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel biologi. sel-sel embrio membesar dan biji melunak.
Kehadiran air di dalam sel mengaktifkan sejumlah enzim perkecambahan awal. Selanjutnya bagian yang aktif melakukan mitosis terangsang melakukan pembelahan sel, seperti di bagian ujung radikula. Akibatnya ukuran radikula makin besar dan kulit atau cangkang biji terdesak dari dalam, yang pada akhirnya pecah.
·         Tahapan perkecambahan
Perkembangan bij berhubungan dengan aspek kimiawi. Proses tersebut meliputi beberapa tahapan, antara lain imbibisi, sekresi hormon dan enzim, hidrolisis cadangan makanan, pengiriman bahan makanan terlarut dan hormone ke daerah titik tumbuh atau daerah lainnya, serta asimilasi (fotosintetis).
Proses penyerapan cairan pada biji (imbibisi) terjadi melalui mikropil. Air yang masuk kedalam kotiledon membengkak. Pembengkakan tersebut pada akhirnya menyebabkan pecahnya testa.
Awal perkembangan didahului aktifnya enzim hidrolase (protease, lipase, dan karbohidrase) dan hormone pada kotiledon atau endosperma oleh adanya air. Enzim protease segera bekerja mengubah molekul protein menjadi asam amino. Asam amino digunakan untuk membuat molekul protein baru bagi membrane sel dan sitoplasma. Timbunan pati di uraikan menjadi maltosa kemudian menjadi glukosa. Sebagian glukosa akan diubah menjadi selulosa, yaitu bahan untuk membuat dinding sel bagi sel-sel yang baru. Bahan makanan terlarut berupa maltosa dan asam amino akan berdifusi ke embrio.
Semua proses tersebut memerlukan energi. Biji memperoleh energi melalui pemecahan glukosa saat proses respirasi. Pemecahan glukosa yang berasal dari timbunan pati menyebabkan biji kehilangan bobotnya. Setelah beberapa hari, plumula tumbuh di atas permukaan tanah. Daun pertama membuka dan mulai melakukan fotosintesis.
·         Tipe Perkecambahan
Berdasarkan posisi kotiledon dalam proses perkecambahan dikenal perkecambahan hipogeal dan epigeal. Hipogeal adalah pertumbuhan memanjang dari epikotil yang meyebabkan plumula keluar menembus kulit biji dan muncul di atas tanah. Kotiledon relatif tetap posisinya. Contoh tipe ini terjadi pada kacang kapri dan jagung. Pada epigeal hipokotillah yang tumbuh memanjang, akibatnya kotiledon dan plumula terdorong ke permukaan tanah. Perkecambahan tipe ini misalnya terjadi pada kacang hijau dan jarak. Pengetahuan tentang hal ini dipakai oleh para ahli agronomi untuk memperkirakan kedalaman tanam.



BAB III
PEMBAHASAN

1.      Hasil Pengamatan
a.       Hasil Pengamatan Struktur Biji Monokotil
                                                              i.      Struktur biji jagung
                                                            ii.      Struktur bawang merah
b.      Hasil Pengamatan Perkecambahan Biji Jagung

No
Hari ke-
Perkembangan
Tahapan perkecambahan
Gambar
1.       

1
-
-
2.       
2
Mulai muncul tunas biji berwarna putih
Radikula (bakal akar) mulai tumbuh
3.       
3
Tunas biji bertambah tinggi
Kuncup primer pucuk batang lembaga (plumula) beserta dengan koleoptil tumbuh
4.       
4
Muncul daun (tanaman mulai berwarna hijau)
Daun pertama mucul dari koleoptil
5.       
5
Tinggi bertambah dan jumlah daun bertambah juga
Jumlah daun bertambah dan akar serabut berkembang, akar tunjang mulai dibentuk.

2.      Analisa Data
a.       Struktur Biji Monokotil

b.      Perkecambahan Biji Jagung
Berdasarkan hasil observasi di atas menunjukkan bahwa:
-    Pada proses perkecambahan jagung, kotiledon tetap berada di dalam tanah, tidak terangkat ke atas. Hanya daun lembaga atau koleoptil bersama plumula yang terangkat ke atas dan selanjutnya akan tumbuh menjadi kuncup daun dan diteruskan hingga menjadi daun. Plumula terbawa ke atas karena adaanya pertumbuhan memanjang pada bagian epikotil, sedangkan bagian hipokotil tidak memanjang sama sekali, sehingga kotiledon tetap berada di dalam testa. Dan tipe perkecambahan seperti ini disebut tipe perkecambahan hypogeal.
-    Pada perkembangan jagung, koleoptil muncul pada hari ke-2 namun masih berada pada permukaan tanah. Sedangkan daun tumbuh pada hari ke-4 dan terangkat ke atas permukaan tanah.



















BAB  IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
·         Struktur biji antara tumbuhan monokotil yang satu dengan yang lain mempunyai sedikit perbedaan.
·         Jagung merupakan tumbuhan berbiji monokotil yang memiliki tipe perkecambahan hipogeal.
Saran




DAFTAR PUSTAKA

http://www.wikipedia.com./perkecambahan
Perbedaan-monokotil-dan-dikotil.html
Pujiyanto, Sri.2008. Menjelajah Dunia Biologi 3. Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.
Sudjadi, Bagod. 2005. Biologi, Sains dalam Kehidupan 3A. Surabaya: Yudhistira.




LAMPIRAN



5 komentar: